3. Fenomena Regional

Seperti halnya didaerah equator atau lintang tropis, tekanan udara diwilayah Indonesia tidak banyak mengalami perubahan, dan tidak mempunyai korelasi yang jelas dengan kejadian hujan, tapi tekanan udara mempunyai korelasi dengan massa udara.

Menurut Suryadi (1993) keadaan cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh jenis massa udara yang terdapat disekitar wilayah Indonesia dan karena itu perlu mengetahui pola tekanan udara yang ada di Asia dan Australia, pola tekanan ini dimanfaatkan untuk mengetahui darimana sumber massa udara yang memasuki wilayah Indonesia.

Tekanan Udara juga dapat dipakai untuk memantau monsoon Asia maupun Australia. Indeks monsoon dapat dikenali dengan perbedaan tekanan udara di Cina dengan Hongkong serta perbedaan antara Darwin dengan Jakarta atau dengan Perth.

Fenomena Regional terdiri dari tiga yaitu :

  • Monsoon
  • Gangguan Tropis
  • Konvergensi atau Intertropical Convergence Zone
i. Monsoon

Wilayah monsoon dinyatakan sebagai wilayah dimana sirkulasi permukaan di bulan januari dan Juli mengalami :

  1. Arah Angin kebanyak berubah setidaknya 120o antara Januari dan Juli;
  2. rata-rata frekuensi arah angin kebanyakan pada bulan Januari dan Juli mencapai 40%;
  3. angin resultan rata-rata yang terjadi minimum pada satu bulan mencapai 3 m/s; dan
  4. setiap dua tahun terjadi kurang dari satu kali perubahan siklon – antisiklon di bulan manapun dalam wilayah selebar 5o lintang – bujur.
ii. Gangguan Tropis

Gangguan tropis merupakan fenomena atmosfer yang dapat mengganggu pola cuaca disekitarnya, banyak jenis gangguan Tropis seperti Badai Tropis, ITCZ, palung utara dan selatan, dan lain sebagainya.

iii. Konvergensi atau Intertropical Convergence Zone (ITCZ)

Konvergensi/ITCZ, adalah daerah pertemuan angin dimana kecepatan anginnya semakin kecil. Konvergensi dengan wilayah yang luas disebut Intertropical Convergence Zone (ITCZ) yang biasanya diakibatkan oleh keberadaan badai tropis yang tumbuh disekitarnya.