1. Pengaruh Lokal Terhadap Iklim di Indonesia

Iklim wilayah Indonesia yang secara gegografis terletak di wilayah equator, secara garis besar dipengaruhi oleh unsur-unsur fenomena lokal seperti :

1.1. Kondisi Suhu Muka Laut Perairan Sekitar Indonesia.

1.2. Sirkulasi Monsun Asia – Australia

1.3. Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ)


1.1. Kondisi Suhu Muka Laut Perairan Sekitar Indonesia

Karena letak wilayah Indonesia di sekitar khatulistiwa, maka wilayah tersebut menerima sinaran matahari terus-menerus sepanjang tahun. Hal ini disebabkan radiasi matahari yang diterima cukup besar karena panjang siang sepanjang tahun yang relaif sama yaitu sekitar 12 jam 7 menit. Perbedaan sinaran siang dan malam hari memberi ciri yang kuat berupa variasi harian unsur cuaca, terutama pada suhu udara, tekanan udara, angin permukaan , dan kelembaban udara. Panas yang diterima oleh permulakaan lautan akan meningkatkan jumlah penguapan yang akan sangat berpengaruh tehadap pembentukan awan dan curah hujan.

Suhu Air Laut pada Perairan Indonesia yang terletak di daerah tropik, maka hampir sepanjang tahun suhu lapisan permukaan air lautnya tinggi, berkisar 26° C – 30° C. Perubahan temperatur (amplitudo) air laut, kecil karena air laut lambat menjadi panas dan lambat menjadi dingin. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor:

  • Air laut selalu bergerak sehingga panas yang diterimanya dijalarkan dan disebar kemana-mana.
  • Permukaan air laut bertindak sebagai cermin sehingga panas matahari yang diterimanya dipantulkan kembali. Sedangkan panas yang diterima air sebagian digunakan untuk penguapan.
  • Pada malam lambat menjadi dingin karena : Uap air di atas permukaan air laut yang telah menjadi dingin menghalangi pelepasan panas dan permukaan air laut yang mengkilat menghalangi pelepasan panas.

Suhu muka laut di perairan Indonesia sebagai indeks banyaknya uap air pembentuk awan di atmosfer. Jika suhu muka laut dingin uap air di atmosfer menjadi berkurang , sebaliknya jika suhu muka laut panas uap air di atmosfer banyak. Pola suhu muka laut di Indonesia secara umum mengikuti gerak tahunan matahari. Suhu muka laut di Samudera Hindia (kecuali sebalah barat Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussalam) mempunyai rentang perubahan yang cukup lebar yaitu minimum berkisar 26.0° C pada bulan Agustus hingga maksimum berkisar 31.5° C pada bulan Febrauari – Maret. Wilayah perairan lainnya umumnya mempunyai rentang perubahan lebih sempit yaitu berkisar 29.0° C hingga 31.5° C dan waktu terjadinya minimum dan maksimumnya tidak sama disetiap perairan.

1.2. Sirkulasi Monsun Asia – Australia

Angin monsun adalah angin yang arahnya berbalik secara musiman. Angin ini disebabkan oleh sifat fisis antara osean dan kontinen, dimana kapasitas panas ocean lebih besar daripada kontinen. Secara latitudinal dan longitudinal dipengaruhi oleh situasi ekuatorial dan monsunal yang berbeda karakteristiknya. Monsun dapat digambarkan sebagai fenomena angin laut raksasa akibat perbedaan padan BBU dan BBS yang dikaitkan dengan migrasi semu matahari tahunan. Monsun sangat penting bagi sistem cuaca kawasan tropik pada umumnya karena berfungsi sebagai pembawa air dan sifat udara lainnya.

Monsun merupakan angin yang bertiup sepanjang tahun dan berganti arah dua kali dalam setahun. Umumnya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah. Pada bulan Oktober – April, matahari berada pada belahan langit Selatan, sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari dari benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi

(kompresi). Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua Australia. Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga pada umumnya di Indonesia terjadi musim penghujan. Musim penghujan meliputi hampir seluruh wilayah Indonesia, hanya saja sebarannya tidak merata. Makin ke Timur curah hujan makin berkurang karena kandungan uap airnya makin sedikit.